Who links to my website?
Photobucket

Monday, June 08, 2009

Ikutan yuuk.. Investasi Hebat , who knows ….


Ikutan yuuk.. Investasi Hebat , who knows ….
 
Cara Kerja Program Investasi AsiaBersama http://tinyurl.com/investasi-hebat
Konsep Program Investasi AsiaBersama adalah memberikan kesempatan kepada siapa
saja untuk mendaftar dengan cara mentransfer sejumlah uang ke 4 (empat) nomor
rekening yang tertera (kita sebut sebagai Sponsor Bronze, Silver, Gold, dan
Platinum), kemudian setiap member yang mendaftar akan diaktifkan oleh minimal
salah satu Sponsor dan berhak memperoleh replika website Program Investasi
AsiaBersama atas nama member tersebut yang siap di informasikan kepada siapa
saja lewat, email, SMS, dsb.
 
Program ini ditujukan bagi siapa saja yang saat ini membutuhkan bantuan dana untuk keperluan yang positif seperti :
Investasi membuka/mengembangkan usaha
Melunasi hutang
Biaya sekolah atau kuliah (Beasiswa), dalam dan luar negeri
Biaya riset ilmiah
Kegiatan sosial, termasuk LSM
dan sebagainya.
Dalam program ini tersedia dana dengan jumlah tak terbatas yang berasal dari ribuan sumber sehingga memungkinan bagi siapa saja untuk mendaftar dan berpeluang mendapatkan dana hibah, tanpa syarat!.
Program ini merupakan program yang mengutamakan kebersamaan, dengan prinsip dari kita, oleh kita dan untuk kita, bersifat terbuka dan tidak ada pihak yang secara langsung bisa mengontrol ataupun bertanggung jawab terhadap sistem secara keseluruhan.
Tugas utama anda adalah melakukan iklan dan promosi sebanyak mungkin terhadap
website pribadi anda (http://www.asiabersama.com/?id=rohmadi02 ), sehingga banyak orang bergabung di Program Investasi ini atas sponsor anda.
Ketika terjadi duplikasi, setiap member baru akan menggeser posisi Sponsor di
atasnya sehingga member baru menjadi Bronze, member yang sebelumnya Bronze
menjadi Silver, Silver menjadi Gold, Gold menjadi Platinum, dan Sponsor Platinum
hilang dari daftar transfer di website anda. Semua terjadi secara otomatis.
Dengan asumsi dalam satu minggu masing-masing orang melakukan promosi terhadap
20 orang member baru (anda mensponsori 20 orang, kemudian masing-masing orang
tadi mensponsori 20 orang, dan seterusnya (terjadi duplikasi 4 kali)), maka
peluang hasil investasi anda adalah :
 
20xRp.20.000 = Rp.400.000
20x20xRp.20.000 = Rp.8.000.000
20x20x20xRp.20.000 = Rp.160.000.000
20x20x20x20xRp.20.000 = Rp. 3.368.400.000
 
Hanya dengan investasi 4 x Rp. 20.000,00 = Rp. 80.000,00, anda bisa
memperoleh income sebesar Rp. 3,36 Miliar lebih hanya dalam 4 minggu !!
Jika anda kurang beruntung, sistem duplikasi yang anda ciptakan hanya berjalan
10%, maka anda masih tetap berhak memperoleh Rp. 336 Juta lebih !! Tidak ada
batasan jumlah maksimal maupun minimal orang yang bisa anda sponsori, semua
tergantung kemauan dan kerja keras anda.
 
Salam Investasi Hebat,
http://tinyurl.com/investasi-hebat
Read more...

Thursday, February 12, 2009

Mempersiapkan Kematian


Mempersiapkan Kematian

Manusia lahir ke dunia dari sebelumnya tidak ada. Namun, setelah
lahir, ia mencintai hidup dan kehidupannya. Lalu ia dihadapkan pada
kenyataan, yakni kematian, batas akhir hidup yang senang atau tidak
senang harus dijalaninya, sebagaimana kelahiran itu sendiri.

Kematian adalah keniscayaan hidup. Dan kematian merupakan pasangan
dari kehidupan. Kegelisahan muncul bila diajukan pertanyaan, kapan
kematian itu datang? Kematian datang pada tiap jiwa bak pencuri,
yang menyelinap masuk lalu keluar menggondol ruh kehidupan dengan
meninggalkan jasad yang tergolek tak berdaya. Kemudian, hidup terasa
terlalu singkat. Banyak pekerjaan dan kewajiban yang belum
terselesaikan.

Oleh karena itu, kematian identik dengan tragedi yang menorehkan
kesedihan bagi yang ditinggalkan. ''Kematian pasti menyambangi tiap
diri yang berjiwa.'' (QS Al-Anbiya: 35). Malaikat maut sangat dingin
mencabut sukma, tak pandang tua atau muda, dan tak ada penundaan
walau sejenak. Apabila ajal manusia menjelang, maka tak ada
penundaan dan percepatan. (QS Yunus: 49 dan QS An-Nahl: 61).

Kematian menjadi rahasia Allah SWT yang misterius agar ia menjadi
lampu kuning bagi manusia supaya tidak ceroboh dalam mengisi hidup
yang sementara ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Aku tinggalkan
bagi kalian dua pemberi peringatan. Yang pertama memberikan
peringatan dengan pembicaraannya. Yang kedua memberikan peringatan
dengan kebisuannya. Yang pertama adalah Alquran dan yang kedua
adalah kematian.''

''Katakanlah, sesungguhnya kematian yang dari situ kalian melarikan
diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga.'' (QS Al-Jumu'ah: 8).
Meskipun demikian, kualitas takut akan kematian berbeda-beda. Ada
yang takut mati karena ketenggelamannya dalam dunia. Tapi, ada pula
yang takut mati karena belum merasa cukup bekal. Takut tipe kedualah
yang patut dipelihara. Kualitas kematian sangat ditentukan oleh
kesadaran (ketakutan) akan kematian itu. Sehingga, ada dua macam
kematian, kematian yang membuat dirinya istirahat dan kematian yang
membuat orang lain istirahat.

Bagi orang beriman, kematian menjadi istirahat panjang di tempat
yang penuh damai. Kematian yang disambut senyuman sang mayat dan
diiringi tangisan dari pelayat. Buat pendurhaka, kematian membuat
semua makhluk beristirahat dari gangguannya. Kematian yang
meledakkan tangis penyesalan sang mayat di liang kuburnya, tapi
sekaligus disyukuri oleh semua manusia. Lalu, manakah macam kematian
yang kita pilih sebagai penghujung catatan akhir hidup kita? ''Dia
yang menjadikan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian,
siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.'' (QS Al-Mulk: 2).

source: soulful
Read more...

Friday, January 23, 2009

HAVE A WONDERFUL LIFE !


Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia.
Beberapa cerita berikut ini menggambarkannya...
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir
pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si sopir menjawab, "Cuaca
hari ini adalah cuaca yang saya sukai." Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"

Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan".

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang
Kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan
tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak
mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudahmendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya.Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". Orang yang "kaya" bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi o rang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang
Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu,Lulu."

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu." Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lu lu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?" tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang
akhirnyamenikah dengan Lulu."

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga".

HAVE A WONDERFUL LIFE !


source : soulful
Read more...

Wednesday, January 07, 2009

-A Legend of a little sparrow-



Kisah Seekor Burung Pipit
Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai
merasakan tubuhnya epanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara
yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.Benar, pelan
pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia
semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah
karena tubuhnya terbungkus salju.Sampai ke tanah, salju yang
menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Si Burung pipit tak
mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.Dia
merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau
yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau
agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin
mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing
tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah dan
memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju
satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran
kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang embeku
pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia
dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si Burung
Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-
nya.Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing
menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si
burung dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan
membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si
burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi dan menari
kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik
hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa
gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit
ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai
pelajaran:

1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat
kita.
2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya
ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang kadang
bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula
sebaliknya.
4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan
jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.
Read more...

Thursday, July 10, 2008

Profil Rumah Muslim Ideal


Profil Rumah Muslim Ideal

Rumah merupakan kebutuhan yang didambakan oleh setiap insan. Di sanalah tempat mereka bercengkrama bersama keluarga, melepas kepenatan dan permasalahan hidup, membina isteri dan anak-anak. Di sanalah tempat seseorang bersembunyi dari aib diri dan keluarga, menjaga diri dari panas dan hujan, menghindarkan keluarga dari mara bahaya. Dan disanalah tempat seseorang menumpahkan segala kebutuhan dan memperoleh kebahagiaan.
Tidak diragukan lagi bahwa rumah seorang muslim yang ideal adalah rumah yang memiliki ciri khas tersendiri dibanding yang lainnya, teristimewa dalam hal ciri dan tandanya, adab dan etikanya, perhatian dan arahannya, serta tujuan dan kepentingannya. Demikian pula teristimewa dalam hal obsesi dan misinya.
Di antara ciri dan keistimewaan rumah seorang muslim yang iltizam (komitmen), adalah sebagai berikut:
Rumah yang di dalamnya senantiasa dihidupkan ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala dan terhindar dari perbuatan syirik. Ikhlas dan jauh dari riya’ (mengharap pujian orang). Karena Allah subhanahu wata'aala memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya untuk beribadah, menyembah dan menauhidkanNya dan menjauhi perbuatan syirik. Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".(QS. adz-Dzariyat: 56). Dalam ayat yang lain, artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun". (QS. an-Nisaa`: 36). Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda dalam hadits qudsi, "Aku tidak butuh terhadap sekutu-sekutu, barangsiapa beramal suatu amalan ia menyekutukan Aku dengan selain diri-Ku (dalam amalnya tersebut) maka pasti Aku tinggalkan dirinya dan sekutunya". (HR. Muslim)
Rumah yang di dalamnya terdapat amal ibadah yang berdasarkan ittiba` (mengikuti petunjuk rasul shallallahu 'alahi wasallam) dan terhindar dari perbuatan bid`ah (amal ibadah yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam).
Firman Allah subhanahu wata'aala, artinya, "Katakanlah, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".(QS. Ali Imran: 31).
Dalam ayat yang lain, artinya, "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS. an-Nur: 63).
Demikian pula Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan. Para sahabat beliau bertanya, "Siapa yang enggan masuk surga wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Siapa yang mentaati aku pasti masuk surga dan siapa yang membangkang tidak mentaati aku sungguh ia telah enggan untuk (masuk surga)." (HR. al-Bukhari)
Dalam sabda beliau yang lain, "Siapa yang mengada-adakan (suatu perbuatan) di dalam agama kami ini yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak". (Muttafaqun `alaih)
Rumah yang berdiri diatas ketaqwaan kepada Allah, dengan tujuan membentuk sebuah keluarga yang sakinah (tentram), mawaddah (saling mencintai) dan rahmah (saling mengasihi). Hal itu juga merupakan tujuan pokok terjalinnya 'mitsaaqan ghalizha' (perjanjian yang kuat) antara kaum Adam dan Hawa.
Rumah yang senantiasa di dalamnya dihidupkan nuansa ilmu(syar`i) dan berpengetahuan. Sungguh Allah subhanahu wata'aala akan mengangkat derajat orang berilmu beberapa derajat, dan Allah subhanahu wata'aala mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tentunya akan sangat berbeda antara rumah yang berpenghuni hamba yang berilmu dan mengamalkannya dan rumah dengan berpenghuni orang yang tidak mengerti ilmu syar`i.
Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS. az-Zumar: 9)
Rumah yang di dalamnya senantiasa dihidupkan kebiasaan saling tolong-menolong, bahu membahu antara anggota keluarga dalam rangka kebaikan dan taqwa.
Rumah yang di dalamnya terdapat hubungan yang sangat baik antara suami isteri dan menjadikan rumah tersebut sebagai madrasah tempat mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak. Suami adalah pemimpin yang senantiasa mengayomi, membimbing, menyayangi orang yang berada di bawah tanggung-jawabnya. Isteri juga hendaknya senantiasa menaati suami (dalam kebaikan), menjaga diri, harta, dan menjadi pembimbing yang baik bagi anak-anak. Demikian pula seorang anak, ia wajib menaati kedua orang tuanya, berbuat baik, dan tidak menjadikan mereka sakit hati akibat prilaku buruknya. Dan masing-masing harus selalu ingat, bahwa ia akan bertanggungjawab di hadapan Allah subhanahu wata'aala.
Dan hendaknya setiap orang tua senantiasa menasihati anak-anaknya, sebagaimana 'Luqman' menasihati anaknya, agar menyembah hanya kepada Allah subhanahu wata'aala saja, menjauhi syirik, menghindari perbuatan dosa sekecil apa pun bentuknya karena Allah subhanahu wata'aala Maha melihat segala apa yang tersembunyi. Demikian juga janganlah ia meremehkan perbuatan baik, walaupun kecil bentuknya karena Allah subhanahu wata'aala akan mengganjarnya, mendirikan shalat, mengajak untuk berbuat yang ma`ruf, mencegah dari perbuatan maksiat, bersabar, dan janganlah memalingkan muka terhadap sesama atau berjalan dengan congkak dan sombong.
Berpenghuni orang-orang yang adil dan tidak berbuat zhalim, baik terhadap para isteri, anak-anaknya, tidak membedakan antara anak laki-laki dan perempuan, dan berbuat baik kepada pembantu. Hal tersebut juga merupakan ciri khas rumah muslim ideal.
Demikianlah Allah subhanahu wata'aala memerintahkan kepada hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya, artinya, "Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa". (QS. al-Maidah: 8).
Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda, "Siapa yang memiliki dua isteri, lalu lebih condong kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan sebelah badannya miring". (HR. Ahmad dan Abu Daud, dan dinilai shahih oleh al-Albani).
Dan dari Nu`man bin Basyir bahwa ayahnya membawa beliau datang kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam, lalu ia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam, Sesungguhnya saya telah memberikan kepada anakku ini (Nu’man) seorang budak milikku, kemudian Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bertanya, "Apakah seluruh anakmu engkau berikan seperti dia?" Ia menjawab, "Tidak." Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam pun bersabda, "Kembalikan (budak tersebut)". Dalam sebuah riwayat beliau bersabda, "Takutlah kalian kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anak kalian".(Muttafaq `alaih).
Merupakan keistimewaan rumah muslim ideal adalah rumah yang di dalamnya hidup sifat 'itsaar' (lebih mendahulukan orang lain walaupun ia membutuhkan), dan memuliakan orang lain, berbuat baik serta menghormati tetangganya. Sifat inilah yang hampir-hampir tidak kita dapati di rumah-rumah muslim zaman ini. Sebaliknya sifat individualismelah yang semakin membudaya, acuh tak acuh terhadap orang lain, sampai-sampai kepada tetangga terdekat pun ia tidak mengenalnya, lebih-lebih mengetahui kondisinya: Apakah tetangganya membutuhkan bantuan, sakit, kelaparan atau pun yang lainnya. Ia sama sekali tidak peduli.
Dalam hal ini Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, "Dan mereka lebih mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung".(QS al-Hasyr: 9)
Rumah yang di dalam anggota keluarga memiliki sifat saling memaafkan, tidak saling menyalahkan bahkan merasa dirinyalah yang bersalah apabila terjadi kesalahpahaman dengan orang lain sehingga ia bersegera mengoreksi dirinya. Saling menasihati karena agama adalah nasihat, dengan nasihat yang baik dan dengan cara yang baik, mudah-mudahan seseorang akan kembali dan bertaubat dari kekeliruannya, saling menepati janji, tidak berkhianat, menghormati tamu karena hal ini adalah termasuk ciri kesempurnaan iman seseorang, berbuat baik dan menyayangi anak-anak yatim serta mencukupi kebutuhan mereka, karena Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Saya dan orang yang mencukupi kebutuhan anak yatim di surga seperti ini, beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah".(HR. al-Bukhari). Maksudnya orang yang mengurus anak yatim akan bersama beliau di surga.
Rumah yang didalamnya senantiasa memberikan perhatian utama terhadap urusan shalat, membaca al-Qur`an, zikrullah, tasbih, tahmid ataupun tahlil, doa-doa ataupun dzikir-dzikir yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti keluar dan masuk rumah, makan, mau tidur dan bangunnya, memakai pakaian ataupun lainnya. Demikian pula senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah terutama di waktu-waktu yang mustajab, qiyamul lail, dan bentuk ibadah-ibadah yang lain.
Rumah muslim ideal adalah rumah yang sederhana, tidak berlebih-lebihan, tidak pula bermegah-megahan. Penghuninya senantiasa menyambung silaturrahim terhadap kerabat dan saudara, berbakti kepada orang tua, memperhatikan hak-hak hewan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat, peka dan peduli terhadap urusan dan kebutuhan masyarakat, Islam dan kaum Muslimin serta menafkahkan hartanya dalam rangka ketaatan kepada Allah subhanahu wata'aala.
Saudaraku, ingatlah bahwa setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah subhanahu wata'aala kelak, Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya." (Mutta-faq 'Alaih). Maka perhatikanlah hal-hal tersebut di atas agar rumah kita menjadi rumah yang benar-benar seperti rumah Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan para sahabatnya karena tidak ada qudwah yang lebih baik dibanding rumah Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan para sahabatnya. Wallahu A`lam.
Oleh: Abu Thalhah Andri Abdul Halim.

Sumber: Disadur dari artikel berjudul "Jawanib at-Tamayyuz Fi Baitil-Muslim", DR. Ahmad bin Utsman al-Mazid dan DR. Adil bin Ali asy-Syuddi.
Taken from syiar-alsofwah
Read more...

Friday, June 20, 2008

Menjama` Shalat karena Hujan


Menjama` Shalat karena Hujan

Sebagai agama kemudahan, Islam senantiasa memberikan kemudahan kepada seorang Muslim untuk melakukan ibadahnya bilamana menghadapi kondisi yang menyulitkannya. Salah satunya dalam kondisi hujan turun, di mana dibolehkan menjamak shalat.

Pengertian Jamak

Jamak artinya menggabungkan. Menjamak shalat artinya menggabungkan antara dua shalat dalam satu waktu, yaitu menggabungkan antara shalat yang empat raka'at saja; shalat Zhuhur dan 'Ashar, shalat Maghrib dan 'Isya.

Dalil-Dalil Mengenai Menjamak Shalat Karena Hujan

Sesungguhnya ada banyak nash yang terkait dengan hal ini dalam hadits-hadits Nabi shallallahu 'alahi wasallam, di antaranya:

a.. Hadits dari Ibn 'Abbas Radhiallahu 'Anhuma, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam shalat Zhuhur dan 'Ashar secara bersama-sama (menjamaknya), maghrib dan 'Isya juga secara bersama-sama (menjamaknya), bukan dalam kondisi ketakutan atau perjalanan." (HR.Muslim) Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan, "Bukan dalam kondisi takut dan hujan." (HR.Muslim) Imam Malik mengomentari, "Menurutku, itu dilakukan saat hujan turun."

b.. Dari Shafwan bin Sulaim, ia berkata, "Umar bin al-Khaththab menjamak shalat Zhuhur dan 'Ashar di hari di mana hujan turun dengan lebat." (HR.Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

c.. Dari Nafi', bahwa penduduk Madinah selalu menjamak shalat Maghrib dan 'Isya di malam di mana hujan turun dengan lebat, lalu Ibn 'Umar Radhiallahu 'anhuma shalat bersama mereka, tidak mencela mereka." (HR.Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

d.. Imam Malik meriwayatkan dari Nafi', bahwa bila para Amir menjamak shalat Maghrib dan 'Isya di saat hujan, Abdullah bin 'Umar Radhiallahu 'anhuma juga menjamak shalat bersama mereka.' (HR.Malik)


Pendapat Ulama Seputar Menjamak Shalat Karena Hujan

Terdapat beragam pendapat ulama fiqih dengan keempat mazhabnya dalam masalah ini, namun karena keterbatasan ruang, di sini akan dikemukakan pendapat yang kuat saja, yang menyinkronkan antara pendapat-pendapat mazhab tersebut. Yaitu boleh menjamak shalat Zhuhur dan 'Ashar, Maghrib dan 'Isya karena turunnya hujan seperti pendapat mazhab asy-Syafi'i. Menjamak shalat dalam kondisi ini tidak hanya khusus untuk shalat Maghrib dan 'Isya saja sebagaimana dikemukakan mazhab Hanbali dan Maliki, tetapi juga -seperti disebutkan dalam hadits- bahwa beliau shallallahu 'alahi wasallam menjamak shalat Zhuhur dan 'Ashar.

Selain itu, juga tidak disyaratkan berkelanjutannya hujan agar shalat pertama bersambung dengan shalat kedua sebagaimana pendapat asy-Syafi'i. Tetapi bila sudah ada sebab untuk menjamak, yaitu hujan, seperti ada mendung di langit dan menetesnya air di atas tanah, maka boleh menjamak. Hal ini berdasarkan jamak yang dilakukan Umar Radhiallahu 'anhu, "Di hari di mana hujan turun dengan lebat" dan jamak yang dilakukan penduduk Madinah, "Di malam di mana hujan turun dengan lebat." Di sini, lebatnya hujan dikaitkan dengan 'hari' atau 'malam,' bukan dengan 'saat didirikannya shalat.' Ini lebih umum dari sekedar adanya kondisi hujan turun saat shalat sedang didirikan, sebab al-Yaum (hari) disebut 'Mathir' bilamana banyak turun hujan (lebat), sekalipun dinaungi oleh kondisi cerah saat shalat sedang didirikan. Hukum ini didasari pada kaidah, "Bila ditemukan sebab hukum, maka boleh mendahulukan ibadah berdasarkan syarat hukum tersebut."

Syarat Menjamak Shalat Karena Hujan

a.. Jamak tersebut dilakukan terhadap dua shalat siang; Zhuhur dan 'Ashar, dan dua shalat malam; Maghrib dan 'Isya. Tidak boleh menjamak shalat siang dengan shalat malam, seperti menjamak shalat 'Ashar dengan shalat Maghrib, atau menjamak shalat malam dengan shalat fajar, seperti menjamak shalat 'Isya dan Shubuh, atau menjamak shalat Shubuh dan Zhuhur.

b.. Niat. Namun di sini, para ulama berbeda pendapat mengenai letak niat tersebut. Bahkan al-Muzanni, murid Imam asy-Syafi'i mengatakan tidak disyaratkannya niat, sebab Nabi shallallahu 'alahi wasallam sering menjamak shalat, namun tidak terdapat riwayat yang menyebutkan beliau meniatkan jamak. Pendapat ini didukung oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiah. Di antara argumentasi yang dikemukakannya adalah bahwa tatkala Nabi shallallahu 'alahi wasallam shalat Zhuhur di 'Arafah bersama para shahabatnya, beliau tidak memberitahukan terlebih dulu kepada mereka bahwa setelah itu akan shalat 'Ashar, tapi kemudian setelah itu, beliau shalat 'Ashar bersama mereka. Sementara para shahabatnya pun tidak meniatkan jamak. Ini adalah shalat Jamak Taqdim. Demikian pula tatkala keluar dari Madinah, beliau shalat 'Ashar bersama mereka di Dzi al-Hulaifah dengan dua raka'at saja, namun tidak menyuruh mereka untuk meniatkan Qashar (Memendekkan shalat yang empat raka'at menjadi dua raka'at).

c.. Tertib (Berurutan). Imam an-Nawawi menyebutkan, disyaratkan pada jamak Taqdim untuk memulainya dengan shalat pertama (shalat pada waktu itu), sebab itu adalah waktunya, sedangkan shalat kedua mengikutinya. Sebab Nabi shallallahu 'alahi wasallam menjamak pun demikian, sedang beliau shallallahu 'alahi wasallam sering bersabda, "Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat." Andaikata seseorang memulai dengan shalat kedua terlebih dulu, maka tidak sah shalatnya, dan ia wajib mengulanginya dengan mengerjakan shalat yang pertama secara jamak.

d.. Berturut-turut antara kedua shalat yang dijamak. Artinya, tidak boleh ada jeda waktu yang terlalu panjang. Dan panjangnya jeda ini merujuk kepada tradisi. Akan tetapi menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiah, hal ini tidak disyaratkan sama sekali. Beliau berargumentasi, "Pendapat yang benar, tidak disyaratkan berturut-turut sama sekali, baik di waktu shalat pertama atau di waktu shalat kedua, sebab batasan tentang itu tidak terdapat di dalam syariat, demikian pula, menjaga hal itu dapat menggugurkan tujuan Rukhshah."


Menjamak Shalat Karena Hujan Di Rumah

Mengenai hal ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Dalam mazhab Syafi'i sendiri terdapat dua pendapat; ada yang mengatakan tidak boleh dan ada yang mengatakan boleh. Demikian pula dalam mazhab Hanbali.

Di antara alasan pendapat yang membolehkannya, pengarang kitab Manar as-Sabil berkata, "Sebab bila ditemukan 'udzur, maka kondisi kesulitan dan tidaknya sama dalam hal itu, seperti dalam perjalanan. Alasan lainnya, karena Nabi shallallahu 'alahi wasallam pernah menjamak pada saat hujan, padahal antara biliknya dan masjid tidak ada sesuatu pun.

Boleh Tidak Shalat Berjamaah Di Masjid Dan Apa Yang Diucapkan Muazin

Dalam hal ini, terdapat beberapa hadits, di antaranya:

a.. Dari Abu al-Malih, dari ayahnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam memerintahkan kepada muazinnya pada perang Hunain, (agar memanggil) :"Shalluu fi rihaalikum, [Shalat (dilakukan) di kendaraan]." (HR.Abu Daud)

b.. Dari Nafi', bahwa Ibn 'Umar Radhiallahu 'anhuma singgah di Dhanjan pada malam yang dingin, lalu ia memerintahkan muazin agar memanggil, "Shalluu fi rihaalikum, [Shalat (dilakukan) di kendaraan]." (HR.Abu Daud)

c.. Dari Ibn 'Umar Radhiallahu 'anhuma, bahwa ia mengumandangkan azan shalat pada malam yang dingin dan berangin. Maka beliau shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Ingatlah! Shalatlah kamu di kendaraan." Ibn 'Umar berkata, "Sesungguhnya bila malam dingin dan turun hujan, Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam menyuruh muazin, "Ingatlah! Shalatlah kamu di kendaraan." (HR.Abu Daud)

d.. Ibn 'Abbas Radhilallahu 'anhuma pernah berkata kepada muazinnya pada hari di mana hujan turun, "Bila kamu mengumandangkan Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, maka janganlah kamu kumandangkan, Hayya 'Alash Shalah (Mari menuju kemenangan), tetapi kumandangkanlah, Shallu Fi Buyutikum (Shalatlah kamu di rumah-rumah kamu). Saat itu orang-orang seolah protes, maka Ibn 'Abbas berkata, "Ini sudah dikerjakan oleh orang yang lebih baik dariku, sesungguhnya Jum'at itu 'Azam dan sesungguhnya aku tidak suka menyusahkan kamu untuk berjalan dalam kondisi tanah berlumpur dan licin." (HR.al-Bukhari)

e.. Ibn 'Umar menceritakan dari Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bahwa beliau memerintahkan muazin agar mengumandangkan azan waktu shalat, kemudian menyerukan, "Shalatlah di kendaraan-kendaraan kamu.!" Hal itu di malam yang dingin dan turun hujan dalam perjalanan. (HR.Abu Daud)

(SUMBER: Bahts Mukhtashar Fi al-Jam'i Baina ash-Shalatain Fi al-Mathar, DR.Sa'duddin bin Muhammad al-Kabbi),
oleh: Hanif Yahya Abu Hafshah . http://www.alsofwah.or.id/

Read more...

Friday, May 30, 2008

Jagalah Lisanmu!!!


Jagalah Lisanmu!!!


Lisan merupakan anugerah sekaligus amanah Allah subhanahu wata'aala; yang harus kita jaga sebaik mungkin. Amanah dan anugerah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah subhanahu wata'aala; kelak di hari Kiamat. Anugerah yang bukan hanya dapat menyelamatkan pemiliknya, tetapi dapat pula menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran dan penyesalan yang mendalam, jika tidak berhati-hati dalam menjaganya.

Tidak seorang pun dapat selamat dari kejahatan lisan, kecuali orang yang menjaga lisannya dengan ketentuan syari'at Allah subhanahu wata'aala dan tidak menggunakan lisannya kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

Banyak manusia yang kurang perhatian dan cenderung meremehkan dalam hal menjaga lisan. Bahkan ironinya, sebagian mereka justru telah terbiasa menggunakan lisannya untuk mencela dan mencaci maki manusia. Juga menggunakannya untuk hal yang haram, seperti: Bernyanyi (yang diiringi dengan musik, red), berdusta, ghibah (menggunjing), atau mengadu domba, berdebat tanpa hikmah, bersaksi palsu.

Banyak manusia meremehkan bahaya dan musibah yang disebabkan oleh lisan, tidak waspada dari perangkap-perangkapnya! Banyak tuhan-tuhan yang disembah selain Allah dengan lisan! Banyak ajaran-ajaran baru di dalam agama ini (bid'ah) dipromosikan oleh lisan?! Banyak hubungan kekeluargaan dan kekerabatan putus dan hancur karena lisan?! Banyak hati yang tercerai berai, pertumpahan darah, dan hilangnya nyawa manusia disebabkan oleh lisan! Banyak orang-orang terzhalimi yang disebabkan oleh lisan? Berapa banyak wanita-wanita baik-baik dicerai juga disebabkan oleh lisan? Berapa banyak harta benda dirampas karena ulah lisan? Dan banyak wanita-wanita shalihah dituduh berzina lewat lisan? Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un.

Lisan merupakan salah satu faktor yang dapat menyeret pemiliknya ke dalam neraka. Maka dapat kita pastikan bahwa menjaga lisan merupakan pilar kebaikan. Sebagaimana hal ini pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam kepada Muadz bin Jabal radhiallahu `anhu, setelah beliau menyebutkan Islam, Shalat, dan Jihad kepadanya, "Maukah kukabari kepadamu tentang pilar semuanya itu? " Muadz radhiallahu `anhu menjawab, "Iya wahai Rasulullah!" Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam memegang lisannya dan bersabda, "Jagalah olehmu ini." Lalu Muadz radhiallhu `anhu pun berkata, "Benarkah kita akan disiksa dengan apa yang kita bicarakan dengan lisan ini? Beliau shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Celakalah engkau wahai Muadz radhiallahu `anhu. "Tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka melainkan akibat dari lisan-lisan mereka?" (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Menjaga lisan juga merupakan jalan menggapai kebahagian di dunia dan di akhirat. Maka dari itu, sudah seharusnya kita mengetahui hal-hal yang dapat membantu dan memudahkan kita dalam menjaga lisan ini dari segala fitnah dan malapetakanya. Di antara hal-hal tersebut adalah:

a.. Meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata'aala dari kejahatan lisan.
Dari syakal bin Hamid radhiallahu `anhu dia berkata, "Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alahi wasallam, dan berkata," "Wahai Rasulullah!, Ajarilah aku cara (do'a) berlindung, sehingga aku dapat berlindung kepadanya." Dia berkata, "Maka beliau shallallahu 'alahi wasallam meraih telapak tanganku, lalu bersabda, ("Katakanlah, "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kejahatan telingaku (pendengaranku), dan dari kejahatan mataku (penglihatanku), dan dari kejahatan lisanku, dan dari kejahatan hatiku, dan dari kejahatan keinginan-keinginanku." (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani)

b.. Mengingat balasan dan kebaikan-kebaikan di dunia dan di akhirat yang dijanjikan Allah subhanahu wata'aala bagi orang yang menjaga lisan.
Maka dengan cara ini seseorang akan termotivasi untuk menjaga lisannya dan bersabar dalam menjaganya. Di antara balasan dan kebaikan menjaga lisan adalah:

a.. Mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wata'aala sampai hari Kiamat.
Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Sungguh seseorang berkata dengan satu kata yang diridhai Allah subhanahu wata'aala sementara dia tidak mengetahui derajat apa yang dicapai dari kata yang ia ucapkan, maka Allah subhanahu wata'aala memberikan keridhaanNya baginya sampai hari ia bertemu denganNya." (HR. Malik, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Hakim).

b.. Mendapatkan jaminan surga. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara kedua jenggotnya (lisannya) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin surga baginya." (HR. al-Bukhari)

c.. Orang yang menjaga lisannya termasuk di antara orang-orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam dan yang paling dekat majlisnya dengan beliau pada hari Kiamat.

d.. Seutama-utamanya kaum muslimin.
Pernah Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam ditanya, "Siapakah orang yang paling utama di antara kaum muslimin?", Maka beliau shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Orang yang saudara-saudaranya kaum muslimin selamat dari kejahatan lisan dan tangannya." (Muttafaq 'alaih).

e.. Selamat dari adzab Allah subhanahu wata'aala. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Barangsiapa diam, maka selamatlah ia." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).

f.. Seutama-utamanya Jihad.
Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Seutama-utamanya jihad adalah engkau memerangi hawa nafsumu di jalan Allah subhanahu wata'aala".(HR. Abu Nu'aim, dan dishahihkan oleh al-Albani).

g.. Terjalin hubungan baik dengan manusia.

h.. Menentramkan jiwa dari kesulitan, kegundahan dan berbagai masalah.

i.. Mendapatkan cinta Allah subhanahu wata'aala dan cintanya penduduk langit dan bumi.


c.. Mengingat akibat-akibat buruk yang akan menimpa yang disebabkan oleh lisan yang tak dijaga..
Sesungguhnya keburukan atau kejahatan lisan dapat menghapuskan kebaikan-kebaikan pada hari Kiamat. Dan akan memberatkan timbangan kejahatan, maka hal ini pula yang dapat memotivasi seseorang untuk menjaga lisannya dari segala malapetaka, dan menguatkan tekad untuk mengatasinya.

d.. Mendirikan shalat.
Shalat juga merupakan salah satu faktor yang dapat membantu seseorang menjaga lisannya. Karena shalat, sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur'an adalah dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar, menghapuskan keburukan dan kesalahan, dan mencegah malapetaka-malapetaka atau fitnah-fitnah yang disebabkan oleh lisan. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian mengerjakan shalat malam, sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan ia dapat mendekatkan diri kalian kepada Allah subhanahu wata'aala, mencegah dari perbuatan dosa, menghapuskan kesalahan-kesalahan, dan menolak penyakit masuk ke dalam tubuh." (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani)

e.. Memperbanyak diam.
Diam merupakan perbuatan yang dipuji dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam, sebagaimana sabdanya, "Barangsiapa diam, maka selamatlah dia." (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani). Dan juga sabda beliau shallallahu 'alahi wasallam lainnya, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaq 'alaih).
Dari Uqbah bin 'Amir zdia berkata, "Ya Rasulullah! Apa itu keselamatan?". Beliau shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Jagalah lisanmu, dan biasakanlah untuk berada di rumahmu, dan menangislah atas kesalahan/dosamu." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani).
Mu'adz bin Jabal radhiallahu `anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Sungguh engkau senantiasa dalam keselamatan, selama engkau diam. Lalu jika engkau berbicara, maka ditulislah (atas pembicaraan tersebut) pahala atau dosamu." (HR. ath-Thabrani, dan dishahihkan oleh al-Albani).

f.. Berdoa kepada Allah subhanahu wata'aala.
Sesungguhnya do'a merupakan sarana perlindungan yang paling agung. Hendaklah seseorang berlindung kepada Allah subhanahu wata'aala; dengan cara berdo'a kepadaNya sepenuh hati agar Dia subhanahu wata'aala; menjaga lisannya dari malapetaka yang membinasakannya.

g.. Menyibukkan diri dengan keta'atan.
Mengisi kekosoangan waktu dengan ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala, berdzikir kepadaNya, dan melakukan keta'atan-keta'atan lainnya, sehingga dapat menutup perangkap-perangkap syetan berupa kemaksiatan dan malapeta yang diakibatkan oleh lisan. Dan hendaklah seorang muslim membiasakan diri untuk tidak menghabiskan waktunya dan menyibukkan diri kecuali dengan ibadah.

h.. Berteman dengan orang-orang yang selalu menjaga lisannya dari perbuatan maksiat.
Dan tidak duduk atau bergaul dengan orang-orang yang terbiasa menggunakan lisannya untuk berdusta, bergunjing, mengadu domba, mencela, melaknat dan mengolok-mengolok orang lain.

i.. Memutuskan semua jalan dan wasilah yang dapat menimbulkan malapetaka/bencana lisan.
Seperti: Marah, dengki, sombong, lalai, berbangga diri, menganggap diri paling suci, bergantung kepada selain Allah subhanahu wata'aala, berusaha mengatasi malapetaka sendiri tanpa meminta pertolongan Allah subhanahu wata'aala, serta sibuk dengan aib orang lain dan lupa dengan aib sendiri. Wallahu a'lam.

sumber: Disadur dari "Amsik 'Alaika Lisanaka", al-Qismi al-'Ilmi Bidari al-Wathani(Oleh: Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi).
Read more...

Kiat Hidup Penuh Berkah


Kiat Hidup Penuh Berkah

Setiap manusia tentu mendambakan kehidupan penuh berkah. Karena itu tak heran, jika kita dapati banyak di antara manusia rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa demi mendapatkan berkah. Dan mereka sangat berharap, jika kesempatan dan umurnya ditambah, merasa sangat gembira ketika rizqinya dilapangkan, memiliki keturunan banyak, dan hal-hal lain yang berupa kesenangan dan kenikmatan yang diinginkan oleh hati manusia. Menurut mereka hal-hal demikianlah yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Sudah seyogyanya seorang muslim senantiasa berdo’a kepada Allah subhanahu wata'aala agar melimpahkan keberkahan kepadanya. Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wasallam; sebagai qudwah hasanah (suri tauladan) bagi kita. Beliau memohon keberkahan kepada Allah subhanahu wata`ala dalam segala urusan.
Berkah adalah menetapnya kebaikan (dari Allah subhanahu wata'aala, pent) di dalam sesuatu.

Sungguh apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, niscaya ia akan berkembang menjadi banyak, sedangkan apabila berkah tersebut terdapat pada sesuatu yang banyak, maka niscaya ia akan semakin bermanfaat. Dan di antara buah yang paling agung dari berkah dalam beraneka ragam nikmat yang Allah subhanahu wata'aala karuniakan adalah dipergunakannya nikmat-nikmat tersebut untuk keta`atan kepada Allah subhanahu wata'aala.

Keberkahan Allah subhanahu wata'aala juga bisa berupa kendaraan yang kondisinya selalu prima, walaupun sudah tua umurnya, jarang rusak atau mogok; Merasakan ketenangan walaupun tidak mempunyai harta yang banyak; Memiliki seorang putri sematawayang yang senantiasa membantu dan mematuhi perintahnya; dikaruniai banyak cucu yang menjadi penyejuk mata baginya. Selain itu ada pula berupa waktu, sehingga ia dengan mudah memanfaatkan seluruh waktunya dalam rangka ibadah dan ta'at kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain, dan lain-lain.

Tentunya kita selalu berdo’a kepada Allah subhanahu wata'aala agar dijauhkan dari hidup yang tidak berkah. Karena banyak pula manusia yang hartanya milyaran rupiah/dolar, tetapi diperbudak oleh hartanya tersebut. Banting tulang bekerja dari pagi hingga larut malam, bahkan sampai tidak tidur malam, karena sibuk menghitung uang dan terus-menerus memikirkan bisnis yang lebih menguntungkan. Ada juga kita dapati seseorang memiliki anak banyak, tetapi semuanya menjadi musuh bagi dirinya, durhaka kepadanya, membuat malu dirinya karena ulah dan prilakunya yang sangat buruk. Ada pula yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, seolah-olah tujuan hidupnya hanya untuk mengumpulkan dunia. Na'udzu billahi min dzalik!

Lalu bagaimana berkah dalam hidup itu bisa kita capai? Kiat-kiat di bawah ini merupakan solusi dan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebagai berikut:

a.. Bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'aala.

Taqwa merupakan kunci seluruh kebaikan. Allah subhanahu wata'aala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ


"Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A`raf :96)
Allah subhanahu wata'aala juga berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (QS. Ath-thalaq :2-3). Maksudnya dari sisi yang tidak pernah ia perkirakan.
Dan "Taqwa" menurut para ulama adalah ‘engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata'aala berdasarka ilmu dari Allah subhanahu wata'aala, semata-mata mengharap pahalaNya; dan engkau tidak bermaksiat kepadaNya karena engkau takut terhadap adzabNya.’

Maka jika engkau bertakwa berarti engkau telah mengumpulkan dua hal, yaitu perintah dan larangan. Engkau melaksanakan perintah berdasarkan ilmu dan meninggalkan maksiat berdasarkan ilmu,serta engkau betul-betul mengharapkan pahala Allah subhanahu wata'aala atas pelaksanaan perintah-perintahNya tersebut dan engkau sangat takut akan adzab Allah subhanahu wata'aala ;sehingga meningalkan larangan-larangan-Nya.

b.. Membaca Al-Qur`an.

Sungguh Al-Qur`an merupakan kitab yang penuh berkah, obat dan penawar bagi seluruh penyakit hati dan jasad. Allah subhanahu wata'aala; berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". (QS. Shaad: 29).

Dan amal yang shalih merupakan sarana untuk meraih sebuah kebaikan dan berkah.

c.. Berdo’a.

Nabi shallallahu 'alahi wasallam senantiasa memohon berkah kepada Allah subhanahu wata'aala dalam berbagai urusan.

d.. Jujur dalam bermu’amalah.

Baik dalam jual beli, sewa-menyewa ataupun transaksi lainnya. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Penjual dan pembeli masih memiliki hak memilih selama keduanya belum berpisah (dari tempat transaksi). Jika keduanya jujur dan terbuka (menjelaskan jika ada cacat/kekurangan), maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka dan jika keduanya menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah berkah jual beli mereka." (HR. Al-Bukhari)

e.. Menyelesaikan pekerjaan di waktu pagi.

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam; bersabda, "Semoga Allah subhanahu wata'aala memberkahi ummatku pada waktu pagi mereka". (HR. Ahmad)

f.. Mengikuti sunnah Rasul shallallahu 'alahi wasallam dalam setiap urusan.

Karena hal itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan. Dari Jabir bin Abdullah radhiallhu `anhu berkata, "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam memerintahkan agar menjilati jari-jemari dan piring, dan beliau berkata, "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana terdapat berkah dari makanan kalian." (HR. Muslim)

g.. Kesungguhan dalam bertawakkal kepada Allah subhanahu wata'aala.

Allah subhanahu wata'aala; berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه


"Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS Ath-Thalaq: 3).

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda, "Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah subhanahu wata'aala; dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah subhanahu wata'aala memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Allah subhanahu wata'aala memberikan rizqi kepada burung, keluar di pagi hari dalam keadaan lapar pulang dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad).

h.. Melakukan shalat istikharah dalam setiap urusan.

Pasrah dan menerima apa yang telah Allah subhanahu wata'aala tentukan, karena hal tersebut pasti lebih baik untuk dirinya di dunia ataupun akhirat.

i.. Tidak meminta-minta kepada orang lain.

Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Siapa saja yang memiliki kebutuhan, lalu ia melimpahkan kebutuhannya tersebut kepada orang lain, maka yang lebih pantas adalah tidak dimudahkan kebutuhannya dan barangsiapa yang memasrahkan kebutuhannya kepada Allah subhanahu wata'aala; niscaya Dia akan mendatangkan kepadanya rizqi dengan segera atau menunda kematiannya." (HR. Ahmad)

j.. Berinfaq dan bersedekah.

Karena keduanya merupakan sarana untuk memperoleh rizqi yang lebih baik yang merupakan karunia Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Allah subhanahu wata'aala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ


"Dan apa saja yang kamu infaqkan, niscaya Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik". (QS. Saba`: 39)

Di dalam hadits qudsi disebutkan, Allah subhanahu wata'aala berfirman, "Wahai anak Adam berinfaqlah, niscaya Aku akan menafkahimu". (HR. Muslim)

k.. Menjauhkan diri dari harta yang haram

Karena harta haram dalam berbagai bentuk dan rupanya tidaklah membawa berkah sedikit pun dan tidak pula menjadikannya langgeng atau awet. Ayat yang menyatakan tentang hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah subhanahu wata'aala:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ


"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah". (QS. Al-Baqarah: 276),

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa maksud 'memusnahkan riba' adalah memusnahkan harta tersebut dari pemiliknya secara keseluruhan atau meniadakan berkah harta tersebut, tidak bermanfaat bahkan menjadikan pemiliknya diadzab, baik di dunia ataupun di akhirat. Sedangkan makna 'menyuburkan sedekah' adalah memperbanyak harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

l.. Bersyukur dan memuji Allah subhanahu wata'aala atas segala pemberian dan nikmat-nikmatNya.

Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu". (QS. Ibrahim: 7)

m.. Menunaikan shalat fardhu,
Allah subhanahu wata'aala; berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى


"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa". (QS. Thaaha : 132)

n.. Terus-menerus beristighfar (memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'aala).

Allah subhanahu wata'aala; berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)


"Maka aku katakan kepada mereka, 'Beristighfarlah (mohonlah ampun) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkam hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS. Nuh : 10-12)


(oleh: Abu Thalhah)
Sumber : disadur dari risalah "Al-Barakah" , Abdul Malik al-Qosim

Read more...

Pahala Menafkahi Keluarga


Pahala Menafkahi Keluarga
Kepada setiap kepala keluarga, perhatikanlah kabar-kabar gembira yang menunjukkan betapa besar nikmat Allah subhanahu wata'aala untukmu! Betapa sempurnanya karunia dan pemberian yang dikaruniakan-Nya atasmu! Dia telah mengaruniaimu keturunan yang dengannya dapat menghiasi kehidupanmu, melapangkan dadamu dan memperbanyak keturunanmu, serta menambah pahalamu kelak di akhirat.!

Kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari rizki, beratnya beban tanggung jawab yang melelahkan dan debu-debu tanah yang menempel seakan begitu berat, tampak di wajahmu dalam perjuangan (jihad) terbesar dan ibadah paling mulia bagimu itu. Karenanya, janganlah bersedih! Itu adalah Sunnatul Hayah (tradisi kehidupan). Di situlah, kamu dicetak dan dengannya kamu diciptakan. Namun bagi orang yang memahami syariat Allah subhanahu wata'aala, maka hal itu menjadi demikian manis dan baik, sementara bagi orang yang menentang syariat-Nya, maka itu menjadi kesengsaraan dan kesia-siaan.

Keutamaan Memberi Nafkah Keluarga

Hanya orang yang jiwa kelelakiannya telah terpatri dalam hatinyalah yang dapat bersedih atas keluh-kesah keluarganya. Dan dalam hal ini, sama saja antara seorang budak dan orang merdeka, seorang Mukmin dan orang kafir. Hanya saja, seorang Mukmin yang tulus menjadikan jalan keluar atas keluh-kesah keluarganya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala dan sebagai sarana mencari ganjaran dan pahala dariNya, karena ia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'aala telah menjadikannya pemimpin atas keluarganya dan telah memerinci mengenai hal itu dalam sebuah firman-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alahi wasallam, "Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarga di rumahnya, dan ia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya itu." (Muttafaqun 'alaih).

Allah subhanahu wata'aala juga menjanjikan pahala yang agung baginya dan keutamaan yang besar atas nafkah yang dikeluarkan dan perawatannya bagi anak-anaknya. Dari Sa'd radhiallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam berkata kepadanya,"Sesungguhnya, sebesar apapun nafkah yang engkau keluarkan atas keluargamu, maka engkau diberi pahala (atas hal itu), sekali pun sesuap yang engkau sodorkan ke mulut isterimu." (HR.al-Bukhari)

Dalam hadits yang lain, dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu `anhu, ia berkata, "Pernah suatu ketika, seorang laki-laki melintas di hadapan Nabi shallallahu 'alahi wasallam, lalu para shahabat beliau melihat betapa keuletan dan semangat orang itu, sehingga membuat mereka kagum, lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, andaikata hal ini termasuk di jalan Allah subhanahu wata'aala.?" Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, 'Jika ia keluar untuk berusaha menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk di jalan Allah subhanahu wata'aala. Dan jika ia keluar untuk berusaha dengan penuh riya` dan kesombongan, maka itu termasuk di jalan setan." (Shahih al-Jami', 2/8)

Dalam salah satu peperangan, pernah Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata kepada teman-temannya, "Tahukah kalian suatu amalan yang lebih utama dari apa yang kita lakukan saat ini (berperang).?" Mereka menjawab, "Kami tidak mengetahui hal itu." Ia berkata, "Aku tahu itu." Mereka mendesak, "Apa itu.?" Ia menjawab, "Laki-laki suci yang memiliki tanggungan keluarga, shalat di malam hari, lalu memandangi anak-anaknya yang sedang tidur dalam keadaan aurat tersingkap, lalu ia menyelimuti dan menutupi mereka dengan pakaiannya. Maka, amalannya itu adalah lebih utama dari kondisi kita ini."

Bagi yang menjadi tulang punggung keluarga! Hendaknya bergembira karena dijanjikan surga oleh Rasulullah subhanahu wata'aala, yakni selama kamu berada di dalam Jihad Tarbiyah, saat kamu menanggung bebannya, bersabar atas keletihan yang dirasakan dan berjuang melawan kesulitan-kesulitannya!

Bila kamu merasa permasalahanmu demikian pelik dan seakan membuat frustasi, maka lihatlah karunia yang diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadamu. Ketika itu, pasti kamu akan merasakan kesabaran memenuhi seluruh relung-relung hatimu, menghapus kesedihanmu, dan memantapkan langkahmu untuk menempuh celah-celah Tarbiyah.

Ingatlah, terkadang para pesedekah mengeluarkan sedekahnya sekali dalam setahun, atau sekali dalam sebulan. Tapi kamu? Dengan mendidik keluarga dan mereka yang berada di bawah tanggunganmu, kamu adalah pesedekah abadi; dengan harta, jiwa, kasih sayang dan kebapakanmu!

Dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Miqdam radhiallahu `anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Makanan yang kamu berikan kepada dirimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan kepada isterimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan untuk pelayanmu, maka itu sedekah untukmu." (Shahih Ibn Majah, 1739)

Janganlah bersedih, lihatlah bagaimana Allah subhanahu wata'aala mengaruniaimu dua kali nikmat:
a.. Pertama, Saat Dia menganugerahimu keluarga yang bisa jadi Dia tidak menganugerahkannya kepada orang lain. Dia telah berkenan mengaruniaimu keturunan, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Dia berkenan memberikanmu anak, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Renungkan apa yang diberikan-Nya kepada Rasul-Nya tentang hal itu, (artinya) "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS.ar-Ra'd:38)

Nikmat mendapatkan anak merupakan nikmat yang besar, yang wajib disyukuri dan untuk melakukannya dituntut suatu perjuangan. Dan ini baru dalam satu nikmat yang faedahnya tidak terhingga banyaknya.
b.. Kedua, saat Dia menjadikan tanggung jawabmu atas anak-anak dan jihadmu dalam mendidik dan menumbuhkembangkan mereka sebagai salah satu pintu kebaikan bagimu di akhirat kelak, saat dan tempat Dia mengampunimu dan menambahkan pahala bagimu karenanya.


Anak Perempuan dan Pahala Besar

Masih saja ada wajah-wajah yang kecewa, cemberut, dan murung manakala mengetahui anak yang barusan lahir dari perut isterinya berkelamin perempuan, padahal sejak awal, Islam telah mengharamkan kebiasaan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan yang dilakukan pada masa Jahiliah, dan mewajibkan berbuat baik kepada mereka. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah subhanahu wata'aala, (artinya) "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah."(QS.an-Nahl:58),
Qatadah berkata, "Ini adalah perangai orang-orang Musyrikin Arab, dan Allah subhanahu wata'aala memberitahukan kepadamu kebusukannya. Adapun seorang Mukmin, maka ia sungguh rela dengan apa yang telah diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Dan apa yang ditakdirkan baginya adalah lebih baik dari diri seseorang. Sungguh, aku tidak tahu, apa itu kebaikannya? Sungguh, betapa banyak bocah perempuan adalah lebih baik bagi keluarganya daripada bocah laki-laki. Bila Allah subhanahu wata'aala memberitakan kepadamu perangai mereka itu (orang-orang Musyrikin), maka hendaklah kamu jauhi dan berhenti darinya. Dulu, salah seorang dari mereka sudi memberi makan anjingnya namun tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya."

Orang yang bersedih karena kelahiran bayi perempuannya adalah orang yang tidak memahami bahwa Sang Pemberi anak laki-laki dan perempuan itu adalah Allah subhanahu wata'aala. Dia berfirman, "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS.asy-Syuro:49-50) Para ulama berkata, "Allah subhanahu wata'aala mengedepankan penyebutan perempuan atas laki-laki untuk memberikan karunia kepadanya (Perempuan). Karenanya, Dia memulai penyebutan diri perempuan sebelum laki-laki."

Mengenai betapa besar pahala yang diberikan kepada orangtua yang dianugerahi anak-anak perempuan, simak hadits yang diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani radhiallahu `anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Siapa saja yang memiliki tiga orang puteri, lalu bersabar, memberi makan, memberi minum dan memberi pakaian mereka dari hartanya, maka mereka kelak akan menjadi penghalang (tameng) baginya dari sentuhan api neraka." (Shahih al-Jami':534) Dalam hadits lain yang mirip dengan itu disebutkan, bahwa bukan hanya bagi yang memiliki tiga orang anak perempuan, bahkan seorang anak perempuan pun, bilamana ia memberikan tempat tinggal, mengasihi dan menanggung mereka, maka dipastikan ia masuk surga. (HR.Ahmad)

Berbahagialah karena mendapatkan rizki berupa anak-anak, yang merupakan kebaikan-kebaikan bagimu kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Bila kamu memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi anak-anak yang shalih lagi beriman. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya." (HR. Muslim).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan peluang yang teramat berharga ini.

(SUMBER: "Ila Shahib al-'Iyal", Divisi Ilmiah Pada Penerbit Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh), Abu Shofiyyah Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan Artikel ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin


Waassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
Read more...